AYAT-AYAT CINTA 2
Add to cart
Judul : Ayat-Ayat Cinta 2
Pengarang : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika
ISBN : 9786020822150
Tebal Buku : 697 Halaman
Fahri melalui kehidupan di Edinburgh tanpa Aisha. Istrinya secara misterius menghilang dalam kunjungannya ke Palestina. Alicia, teman seperjalanan Aisha dilaporkan tewas tak lama setelah mereka menghilang.Selanjutnya, kisah Fahri diceritakan tentang bagaimana upaya yang dilakukannya untuk menemukan sang istri, dan seperti apa ia melanjutkan hidupnya.
Fahri pindah ke Edinburgh bersama Paman Hulusi, asisten rumah tangga yang begitu dipercayanya. Di kota ini, ia melanjutkan pendidikan sembari melanjutkan riset pendidikannya di kota ini. Oleh Profesor Charlotte,ia juga diminta untuk menggantikan sebagai pengajar di universitas, dan juga pembimbing bagi mahasiswa yang tengah menyelesaikan pendidikannya.
Di Edinburgh, Fahri tinggal di kawasan bernama Stoneyhill Grove. Di sini ia memiliki tetangga bernama Nyonya Janet yang tinggal dengan kedua anaknya, Keira dan Jason. Lalu ada pula seorang wanita bernama Brenda,dan ada seorang nenek Yahudi bernama Catarina. Keberadaannya sebagai seorang muslim rupanya mengusik tetangga yang tidak senang karena status agamanya. Setiap pagi Fahri kerap menemukan tulisan yang tidak menyenangkan tentang Islam dan muslim yang acapkali dicap sebagai teroris dan monster. Ia tahu bahwa pelaku tersebut adalah tetangganya sendiri. Dan meskipun mendapat perlakukan seperti itu, oleh Fahri justru perbuatan tersebut dibalas dengan kebaikan. Fahri rela menyelamatkan kehidupan tetangganya; Keira dibiayainya untuk mendapatkan pendidikan musik demi mencapai cita-citanya sebagai pemain biola terkenal, Jason disekolahkan bola. Padahal, Keira amat membenci muslim karena ayahnya meninggal akibat serangan bom yang diduga pelakunya adalah orang Islam.
Tidak hanya itu, Nenek Catarina, seorang Yahudi taat pun tak luput dari bantuan pertolongan Fahri. sang nenek yang terlibat konflik urusan rumah dengan anak tirinya Barus yang mantan tentara yang bertugas di Tel Aviv, mengambil rumah milik almarhum ayahnya dan mengusir ibu tirinya tersebut. Fahri menolong sang nenek dan memberikan tempat tinggal yang layak bagi wanita tua tersebut. Kedermawanan Fahri tidak hanya sampai di situ, ia menampung seorang tunawisma yang sempat mendapatkan perhatian karena masuk ke dalam surat kabar akibat mengemis di pelataran masjid. Menurutnya, sebagai seorang muslim, sudah selayaknya ia membantu wanita tersebut. Orang lain yang tidak seakidah dengannya saja ia bantu,mengapa saudara seiman sendiri tidak ditolongnya? Wanita itu bernama Sabina, seorang perempuan berwajah rusak namun menjaga kehormatannya dengan berjilbab ditampung oleh Fahri di basement rumahnya. Dan sejak saat itu, ia membantu Paman Hulusi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumah Fahri. Ada pula Misbah, teman Fahri yang tanpa sengaja ditemuinya di Edinburgh dan dibantu keuangan olehnya.
Fahri memang sosok businessman, sejak menikah dengan Aisha ia mulai terbiasa mengelola bisnis keluarga Aisha dan mengembangkannya hingga sekarang. Bersama saudara sepupu Aisha, Ozan, ia mengembangkan butik di Edinburgh dan mengembangkannya dengan membuka cabang di luar kota. Selain itu, Fahri juga memiliki minimarket dan restauran halal tidak jauh dari kediamannya berada.
Kedatangan Syaikh Utsman--guru talaqqi-nya dulu di Mesir--ke Edinburgh,membuka babak baru kehidupan Fahri. Syaikh menasehati Fahri untuk memikirkan menikah lagi dan mulai untuk kehidupan barunya. Fahri juga rupanya memikirkan hal tersebut juga. Bahwa memang ia tidak dapat melupakan Aisha, namun ia sudah berusaha untuk menemukan istrinya itu dengan usaha yang maksimal. Syaikh Utsman menawarkan kepada Fahri untuk menikah dengan cucunya yang bernama Yasmin. Selain itu, kehadiran perempuan-perempuan lain di sekitar Fahri juga sebenarnya sudah seharusnya mendapat perhatian dari Fahri dan pantas untuk dijadikan istri. Misalnya Heba, seorang muslimah yang ayahnya dikenal baik oleh Fahri di Edinburgh. Dan ada pula Hulya, adik Ozan, yang masih berkerabat dengan Aisha. Hulya bisa dikatakan mirip dengan istrinya yang hilang itu. Dari segi posturnya, kemiripan wajah, dan juga kemampuan memainkan biola benar-benar mirip dengan Aisha. Dan memang, sudah selayaknyalah Fahri memikirkan untuk mencari pengganti istrinya.
Selain dihadapkan dengan permasalahan pribadinya sendiri, tantangan juga datang dari pihak luar. Isu islamophobia dan konflik Palestina diangkat ke jalur perdebatan ilmiah. Dua kali Fahri diajak untuk berdebat dan mengemukakan permasalahan ini yang dijadikan tema dalam mimbar debat.Yang pertama, tantangan berasal dari Barus yang notabene adalah seorang Yahudi yang menyebutnya sebagai amalek. Debat yang berlangsung di auditorium kampus tempat Fahri mengajar ini, Fahri menyampaikan pandangannya tentang kaum yang disebut amalek tersebut dengan dalil yang diungkapkan Fahri dengan menggunakan kitab yang diyakini oleh Barus dan kawan-kawannya. Debat kedua, dengan skala lebih luas lagi digelar dengan menghadirkan dua orang pembicara dari kalangan akademisi lainnya. Pembicara pertama mengemukakan pendapatnya bahwa semua agama adalah sama sementara pembicara kedua mengemukakan pandangannya tentang atheis.Fahri tampil dengan memaparkan penjelasannya tentang Islam.
Bagaimana kelanjutan kisah Fahri? Apakah ia berhasil menemukan istrinya yang hilang atau memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan menikah lagi? Bagaimana pandangan orang-orang tentang stereotip bahwa Islam adalah agama teroris dan masihkah mereka membenci Islam, terutama orang-orang terdekat (tetangga dan lingkungan) Fahri? Bagaimana upaya Fahri untuk memfilter pandangan negatif terhadap Islam yang gencar terjadi di Eropa? Buku ini yang meskipun sangat tebal, amat layak untuk dibaca dan diikuti setiap alurnya. Tidak hanya akan mendapatkan suguhan plotnya yang menarik, namun banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diambil dari membacanya.


